Langsung ke konten utama

GSSJ Ratulangi: Sebuah Biografi



Dr. GSSJ Ratulangi merupakan seorang pahlawan nasional Indonesia dari Minahasa, yang juga berperan penting dalam peristiwa kemerdekaan Indonesia. Beliau terkenal dengan filsafatnya yaitu “si tou timou tumou tou” yang berarti “manusia baru dapat disebut sebagai manusia jika sudah memanusiakan manusia”, dalam artian bahwa kita sebagai manusia harus dapat memanusiakan sesama manusia, dengan berbagai cara yang baik yang bisa kita lakukan. Beliau merupakan sosok yang begitu gigih dalam memperjuangkan pendidikan bagi dirinya dan juga bagi segenap rakyat Minahasa, dan beliau juga merupakan seorang yang visioner dalam memandang masa depan bangsa, hal ini dapat terlihat ketika beliau membuat sebuah tulisan yang tertuang dalam “Indonesia in de Pacific” dan tulisannya tersebut berhasil terbit dan dibukukan. Selain itu, beliau juga merupakan pejuang kemerdekaan dengan menjadi anggota PPKI dan setelah merdeka beliau menjadi gubernur Sulawesi dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia di tanah Sulawesi, juga termasuk Minahasa yang merupakan tempat kelahirannya. Sosoknya yang gigih dan visioner tersebut bisa dicontoh dan diteladani oleh kita semua, terlebih untuk para generasi muda di masa sekarang demi terwujudnya Negara Kesatuan Republik Indonesia yang semakin maju dan berkembang.

Dari Kelahiran, Masa Kecil, hingga Masa Muda

Dr. Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangi, atau yang lebih dikenal dengan nama Sam Ratulangi, merupakan seorang pahlawan nasional Indonesia. Beliau lahir di Tondano, Minahasa, Sulawesi Utara, Hindia Belanda, pada tanggal 5 November 1890. Beliau adalah putra dari Jozias Ratulangi dan Augustina Gerungan, yang berasal dari keluarga yang terpandang[1]. Ayahnya merupakan seorang guru di Hoofden School (sekolah menengah setingkat SMP yang diperuntukkan untuk anak-anak dari kepala-kepala desa) di Tondano, dan ibunya merupakan putri dari Jacob Gerungan, yang menjabat sebagai Kepala Distrik (Mayoor) Tondano-Touilang.

Sam Ratulangi mengawali pendidikannya di sekolah dasar Belanda yaitu Europeesche Lagere School (ELS) di Tondano, dan setelah lulus beliau melanjutkan pendidikannya di Hoofden School di Tondano. Di masa pendidikannya, beliau merupakan sosok yang menonjol apabila dibandingkan dengan anak-anak seumurannya yang lain karena memiliki wawasan yang lebih, hal itu disebabkan karena beliau memiliki kemampuan membaca yang bagus. Beliau seringkali membaca buku-buku milik ayahnya untuk meningkatkan kemampuan membacanya. Setelah lulus dari Hoofden School, pada tahun 1904 beliau berangkat ke Jawa untuk melanjutkan pendidikannya di sekolah pendidikan dokter pribumi di Batavia yakni STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen) setelah menerima beasiswa dari sekolah tersebut. Namun sesampainya di Batavia, beliau kemudian berubah pikiran dan memutuskan untuk belajar di sekolah teknik Koningin Wilhelmina School (KWS)[2]. Beliau lulus pada tahun 1908 dan mulai bekerja pada konstruksi rel kereta api di daerah Priangan Selatan, Jawa Barat.

Sam Ratulangi (kanan) bersama sepupunya, circa 1910. Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Sam_Ratulangi

Ketika beliau bekerja sebagai teknisi perkeretaapian di Priangan Selatan, beliau mendapat perlakuan yang tidak adil dalam hal upah dan penginapan karyawan, serta memperoleh diskriminasi antara pegawai pribumi dengan pegawai Indo[3]. Hal itulah yang kemudian membuat rasa nasionalismenya tumbuh dan membuatnya berpikiran bahwa sistem diskriminasi seperti ini harus diatasi. Oleh karena itu, cita-citanya untuk melanjutkan pendidikan semakin tinggi karena menurutnya dengan pendidikanlah maka sistem diskriminasi dapat diatasi. Kemudian pada tahun 1912 barulah Sam Ratulangi berangkat ke Amsterdam, Belanda, untuk melanjutkan pendidikannya. Beliau menempuh pendidikan di sebuah universitas di Amsterdam[4] selama dua tahun, namun ia tidak bisa menyelesaikan studinya karena tidak diperbolehkan mengikuti ujian, karena ternyata beliau tidak memiliki sertifikat tingkat SMA (dahulu Hoogere Burgerschool (HBS) atau Algemeene Middelbare School (AMS)) yang menjadi syarat dari universitas tempatnya belajar saat itu. Kemudian atas saran dari Mr. Abendanon, seorang berkebangsaan Belanda yang bersimpati terhadap orang-orang Hindia, akhirnya beliau mendaftarkan diri dan diterima di Universitas Zurich di Swiss[5].

Selama di Amsterdam, beliau sering bertemu dengan Sosro Kartono yang merupakan saudara dari RA Kartini, serta tiga pendiri Indische Partij yaitu Ernest Douwes Dekker, Tjipto Mangoenkoesoemo, dan Soewardi Soerjaningrat. Beliau juga aktif dalam organisasi Indische Vereeniging (Perhimpunan Indonesia) dan terpilih sebagai ketua Perhimpunan Indonesia pada tahun 1914. Sementara di Swiss, beliau aktif dalam organisasi Associations d'étudiants Asiatiques (Asosiasi Mahasiswa Asia) di mana ia bertemu dengan Jawaharlal Nehru dari India[6]. Beliau juga aktif dalam menulis berbagai artikel. Kemudian pada sekitar tahun 1919, Sam Ratulangi kembali ke Indonesia dan mengajar mata pelajaran matematika dan sains selama tiga tahun di sekolah teknik Prinses Juliana School[7]. Kemudian beliau pindah ke Bandung dan memulai perusahaan asuransi dengan Roland Tumbelaka, seorang dokter yang juga berasal dari Minahasa, dengan nama Assurantie Maatschappij Indonesia.

Sam Ratulangi bersama anggota-anggota lainnya di depan Gedung Minahassa Raad. 


Berkiprah di Bidang Politik

Sam Ratulangi memulai kariernya di bidang politik untuk pertama kalinya pada tahun 1923, ketika beliau dicalonkan oleh Partai Perserikatan Minahasa (Jong Minahasa) untuk menjadi sekretaris badan perwakilan daerah Minahasa di Manado yang bernama Minahassa Raad. Beliau resmi menjabat posisi tersebut sejak tahun 1924 hingga tahun 1927. Selama berkiprah di Minahassa Raad, beliau memperjuangkan hak-hak warga Minahasa yang banyak tertindas akibat pemerintahan kolonial Belanda kala itu. Beliau beserta para anggota Minahassa Raad yang lain menuntut penghapusan kerja paksa atau yang biasa disebut Heerendiensten, yang menjadi akar permasalahan tidak sejahteranya rakyat Minahasa di masa pemerintahan kolonial. 

Beliau juga berperan dalam pembukaan daerah Modoinding dan Kanarom di Minahasa Selatan untuk transmigrasi dan pembentukan yayasan untuk membiayai pendidikan siswa-siswa Minahasa yang membutuhkan[8]. Lalu beliau diangkat menjadi anggota Volksraad pada tahun 1927 mewakili rakyat Minahasa, dan mendukung nasionalisme Indonesia dengan menjadi anggota Fraksi Kebangsaan yang dimulai oleh Mohammad Husni Thamrin, yang merupakan salah satu sponsor dari Petisi Soetardjo yang menyatakan keinginan untuk menjadi sebuah negara yang merdeka melalui reformasi bertahap yang dicapai dalam waktu sepuluh tahun[9]. Petisi ini melewati Volksraad namun tidak diterima oleh pemerintah kolonial Belanda. Sam Ratulangi tidak ragu untuk mengkritik pemerintah kolonial hingga akhirnya pemerintah kolonial menganggap Ratulangi sebagai risiko yang cukup berbahaya bagi mereka. Ratulangi tetap aktif di Volksraad hingga tahun 1937 dan di tahun tersebut beliau ditangkap karena pandangan politiknya, dan beliau dipenjarakan selama beberapa bulan di Penjara Sukamiskin yang terletak di Bandung[10]

Setelah dibebaskan dari penjara pada tahun 1938, beliau menjadi editor sebuah majalah berita berbahasa Belanda yaitu Nationale Commentaren[11]. Beliau menggunakan majalah tersebut untuk menyuarakan pendapat-pendapatnya yang menentang tindakan pemerintah kolonial yang dirasa tidak adil kepada rakyat pribumi serta bertujuan untuk membuat seluruh orang Indonesia sadar akan keadaan yang sedang terjadi pada masa itu.

Sam Ratulangi (di podium) bersiap memberikan pidato di Volksraad, circa 1927.


Berkiprah (juga) di Bidang Akademik

Selain berkiprah di bidang politik, Sam Ratulangi juga aktif berkiprah dalam bidang akademik. Beliau adalah salah satu pendiri Persatuan Cendekiawan Indonesia (Vereeniging van Indonesische Academici) yang didirikan pada tahun 1932[12]. Pada tahun 1937, buku beliau yang berjudul “Indonesia in de Pacific” diterbitkan. Buku tersebut dianggap visioner dalam isinya, yang berupa peringatan dari Sam Ratulangi bahwa Jepang mungkin saja akan menyerang kepulauan Indonesia karena sumber daya alam yang dimiliki oleh Indonesia tidak dimiliki oleh Jepang. Beliau menggambarkan dalam buku tersebut mengenai peran utama Indonesia dan negara-negara lain di Asia Tenggara di sekitar Lingkar Pasifik. Selain itu, beliau juga termasuk dalam kelompok pemimpin gereja dan nasionalis yang di dalamnya juga termasuk Bernard Wilhelm Lapian dan Alexander Andries Maramis, yang menginginkan sebuah denominasi gereja yang bebas dan terpisah dari lembaga gereja resmi Hindia Belanda yang disebut Protestantsche Kerk di Nederlandsch-Indie atau yang lebih dikenal dengan sebutan Indische Kerk. Pada tahun 1933, kemudian didirikan Kerapatan Gereja Protestan Minahasa, yaitu sebuah gereja yang terpisah dari lembaga gereja resmi Hindia Belanda[13].

Ketika masa pendudukan Jepang tepatnya pada tahun 1943, Sam Ratulangi ditugaskan sebagai penasihat untuk pemerintah militer pendudukan Jepang[14]. Pada tahun 1944, beliau dipindahkan ke Sulawesi Selatan untuk menjadi penasihat pemerintah militer di Makassar, yang ketika itu masuk ke wilayah timur yang dikendalikan oleh Angkatan Laut Jepang[15]. Kemudian pada bulan Juni 1945, Sam Ratulangi mendirikan sebuah organisasi bernama Sumber Darah Rakyat (SUDARA), yang bertujuan untuk membangkitkan sentimen nasionalis di Sulawesi dalam mengantisipasi kemungkinan kemerdekaan dalam waktu dekat[16].


Terlibat dalam Pendirian Bangsa

Pada awal bulan Agustus 1945, Sam Ratulangi diangkat sebagai salah satu anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) mewakili wilayah Sulawesi[17]. Ketika proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia dilaksanakan pada tanggal 17 Agustus 1945, beliau hadir dalam upacara tersebut karena beliau baru saja datang bersama anggota PPKI lainnya dari wilayah timur untuk mengikuti rapat PPKI, yang kemudian dikenal dengan sebutan Sidang PPKI[18]. Sidang PPKI yang dilaksanakan pada hari berikutnya, tepatnya pada tanggal 18 Agustus 1945 menghasilkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia, pengangkatan Soekarno dan Mohammad Hatta sebagai presiden dan wakil presiden, serta pembagian wilayah-wilayah administratif negara Republik Indonesia menjadi 8 provinsi, dimana kemudian Sam Ratulangi diangkat menjadi Gubernur Sulawesi[19]. Kemudian beliau kembali ke Makassar dan secara resmi mengumumkan proklamasi kemerdekaan disana.

Sketsa wajah Sam Ratulangi. Sumber: https://m.facebook.com/lani.ratulangi

 

Diasingkan ke Serui

Tak lama setelah diumumkannya proklamasi kemerdekaan oleh Sam Ratulangi di Makassar, pada bulan September 1945 pasukan Sekutu yang dipimpin oleh Brigadir Jenderal Ivan Dougherty beserta pasukan NICA (Netherlands Indies Civil Administration) dan KNIL (Koninklijk Nederlandsch-Indische Leger) besutan Belanda tiba di Makassar, dan mereka siap untuk mengambil alih wilayah Hindia Belanda kembali. Tak tinggal diam, para pemuda daerah Sulawesi bersiap untuk berjuang dengan segala cara untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia[20]. Bersamaan dengan hal tersebut, Sam Ratulangi juga mendapatkan dukungan dari raja-raja adat setempat, termasuk Kesultanan Bone dan Kedatuan Luwu yang menyatakan dukungan terhadap Republik Indonesia yang baru didirikan[21]. Beliau mampu mengadakan negosiasi dengan pihak-pihak terkait dalam upaya menjaga perdamaian dan mampu membentuk pemerintah daerah yang beroperasi hingga sembilan bulan, hingga kemudian pada tanggal 5 April 1946 beliau beserta beberapa stafnya ditangkap dan ditahan oleh polisi militer Belanda. Mereka dipenjarakan selama tiga bulan dan kemudian diasingkan ke wilayah Serui, yang terletak di Kepulauan Yapen di Papua Barat[22]. Selama pengasingannya di Serui, beliau berinteraksi dengan masyarakat setempat dengan mendirikan sekolah lokal dan organisasi sosial untuk membantu para wanita dalam komunitas[23].

Sam Ratulangi. Sumber: https://m.facebook.com/lani.ratulangi


Dari Pembebasan hingga Akhir Hayat

Setelah penandatanganan perjanjian Renville resmi berlaku pada tanggal 23 Maret 1948, barulah kemudian Belanda melepaskan Sam Ratulangi beserta rekan-rekannya[24]. Mereka dipindahkan ke Surabaya dan kemudian dikawal ke garis demarkasi dekat wilayah Mojokerto dan Jombang untuk menuju ke ibukota Republik Indonesia di Yogyakarta. Kemudian beliau ditunjuk sebagai penasihat khusus untuk pemerintah Indonesia serta sebagai anggota delegasi Indonesia dalam negosiasi dengan pihak Belanda. Selain itu, beliau juga mengunjungi pasukan Indonesia di Jawa Timur dan menghadiri konferensi keuangan di wilayah Kaliurang, Yogyakarta[25]. Ketika Agresi Militer Belanda II berlangsung, wilayah Yogyakarta dikuasai Belanda dan Soekarno beserta Mohammad Hatta ditangkap dan diasingkan ke wilayah Bangka. Sementara Sam Ratulangi ditangkap oleh pihak Belanda pada tanggal 25 Desember 1948 dan dipindahkan ke Jakarta pada tanggal 12 Januari 1949 untuk selanjutnya diasingkan ke Bangka seperti halnya Soekarno dan Hatta. Namun karena masalah kesehatan yang dialami oleh beliau pada saat itu, beliau diizinkan untuk tinggal di Jakarta sebagai tahanan rumah[26]. Sam Ratulangi meninggal di Batavia dalam masa tahanannya pada tanggal 30 Juni 1949[27]. Beliau dimakamkan sementara di Tanah Abang, dan pada tanggal 23 Juli 1949 jenazahnya diangkut ke Manado dengan menggunakan kapal KPM Swartenhondt[28]. Pada tanggal 1 Agustus 1949 jenazahnya sampai di Manado dan di hari berikutnya jenazahnya dibawa untuk dimakamkan di kampung halamannya di Tondano[29].

Peti jenazah Sam Ratulangi dibawa dari rumah duka di Tondano menuju pemakaman. Sumber: https://m.facebook.com/lani.ratulangi

 

Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional

Pada bulan Agustus 1961, Sam Ratulangi dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia secara anumerta oleh Soekarno berdasarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 590 tahun 1961[30]. Beliau juga menerima anugerah Bintang Gerilya pada tahun 1958, Bintang Mahaputra Adipradana pada tahun 1960, dan Bintang Satyalancana pada tahun 1961, dan ketiganya diberikan secara anumerta[31]. Sam Ratulangi sangat terkenal di wilayah Sulawesi, terlebih di wilayah Minahasa. Namanya diabadikan sebagai nama jalan-jalan utama di semua kota di Minahasa, seperti Bitung, Tondano, Tomohon, dan Manado. Selain itu, namanya juga diabadikan sebagai nama bandar udara internasional di Manado yang bernama Sam Ratulangi International Airport atau Bandar Udara Internasional Sam Ratulangi, serta nama sebuah universitas negeri di Manado yang bernama Universitas Sam Ratulangi, atau yang kini lebih dikenal dengan sebutan Unsrat. Tak hanya itu, pada tahun 2016 Kementerian Keuangan Republik Indonesia mengeluarkan uang baru seri 2016 dimana dalam pecahan uang sebesar dua puluh ribu rupiah menggambarkan sosok Sam Ratulangi di bagian depan.

 

Het universiteitsgebouw van de Sam Ratulangi Universiteit (Gedung Rektorat Universitas Sam Ratulangi), circa 1981. Sumber: https://collectie.wereldculturen.nl

 

Dr. G.S.S.J Ratulangi dalam bagian depan uang Rp 20.000 tahun emisi 2016. Sumber: www.bi.go.id



DAFTAR PUSTAKA

Surat Kabar

“Dr. Ratulangi Overleden” (Dr. Ratulangi Meninggal, tertulis dalam Bahasa Belanda). Algemeen Handelsblad. 1 Juli 1949. pag. 4. Diakses melalui https://www.delpher.nl/nl/kranten/view?query=ratulangi&coll=ddd&identifier=KBNRC01:000087826:mpeg21:a0036&resultsidentifier=KBNRC01:000087826:mpeg21:a0036 pada 11 September 2020 pukul 12.10 WIB

“Plechtige Uitvaart Dr. Ratulangi” (Pemakaman Hikmat Dr. Ratulangi, tertulis dalam Bahasa Belanda). Het Dagblad: uitgave van de Nederlandsche Dagbladpers te Batavia. 23 Juli 1949. Pag. 2. Diakses melalui https://www.delpher.nl/nl/kranten/view?query=plechtige+uitvaart+ratulangi&coll=ddd&identifier=ddd:010898484:mpeg21:a0048&resultsidentifier=ddd:010898484:mpeg21:a0048 pada 11 September 2020 pukul 12.15 WIB

 

Buku

Abdullah, Taufik. 2009. Indonesia: Towards Democracy. Singapore: Institute of Southeast Asian Studies.

Agung, Ide Anak Agung Gde. 1996. From the Formation of the State of Indonesia Towards the Establishment of the United States of Indonesia. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

Elson, Robert. 2008. The Idea of Indonesia: A History. Cambridge University Press.

Kanahele, George S. 1967. The Japanese Occupation of Indonesia: Prelude to Independence (PhD). Cornell University.

Masykuri. 1985. Dr. GSSJ Ratulangi. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Mirnawati. 2012. Kumpulan Pahlawan Indonesia Terlengkap. Jakarta: Cerdas Interaktif.

Parengkuan, Fendy. 1982. A. A. Maramis, SH. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Pawiloy, Sarita. 1987. Sejarah Perjuangan Angkatan 45 di Sulawesi Selatan. Jakarta: Angkatan 45.

Pondaag, W. S. T. 1966. Pahlawan Kemerdekaan Nasional Mahaputera Dr. G. S. S. J. Ratulangie: Riwajat Hidup dan Perdjoangannja. Surabaja: Jajasan Penerbitan Dr. G. S. S. J. Ratulangie.

Suwondo, Bambang. 1978. Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah Sulawesi Utara. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

 

Jurnal

Abeyasekere, Susan. “The Soetardjo Petition” dalam Indonesia (ditulis dalam Bahasa Inggris) No. 15, Apr 1973, pp. 81-108 (p. 84). Cornell University Press; Southeast Asia Program Publications at Cornell University. Diakses melalui www.jstor.org/stable/3350793 pada 11 September 2020 pukul 08.40 WIB

Taroreh, Osvald. 2012. “Pionir Gereja dan Pahlawan Kemerdekaan dari Minahasa: Bernard Wilhelm Lapian”. Bejana Advent Indonesia Timur.



[1] Masykuri. Dr. GSSJ Ratulangi. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. 1985. hlm 5

[2] Ibid., hlm 17

[3] Orang Indo (singkatan dari Indo-Europeanen atau Eropa-Hindia) merupakan kelompok etnis peranakan Eropa dengan Indonesia (atau Hindia Belanda pada masa itu). Lihat Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi V, kata kunci: indo

[4] Beberapa sumber menyebutkan bahwa Sam Ratulangi menempuh pendidikan di Universiteit van Amsterdam semasa di Belanda, namun sumber lain menyebutkan bahwa Sam Ratulangi menempuh pendidikan di Vrije Universiteit Amsterdam.

[5] Parengkuan, Fendy. A. A. Maramis, SH. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. 1982. hlm 31

[6] Pondaag, W. S. T. Pahlawan Kemerdekaan Nasional Mahaputera Dr. G. S. S. J. Ratulangie: Riwajat Hidup dan Perdjoangannja. Surabaja: Jajasan Penerbitan Dr. G. S. S. J. Ratulangie. 1966. hlm 25

[7] Masykuri. Op. cit,. hlm 27

[8] Ibid., hlm 32

[9] Abeyasekere, Susan. “The Soetardjo Petition” dalam Indonesia (ditulis dalam Bahasa Inggris) No. 15, Apr 1973, pp. 81-108 (p. 84). Cornell University Press; Southeast Asia Program Publications at Cornell University. Diakses melalui www.jstor.org/stable/3350793 pada 11 September 2020 pukul 08.40 WIB

[10] Masykuri. Op. cit., hlm 37-45

[11] Pondaag. Op. cit., hlm 135

[12] Pondaag. Op. cit., hlm 25

[13] Taroreh, Osvald. “Pionir Gereja dan Pahlawan Kemerdekaan dari Minahasa: Bernard Wilhelm Lapian”. Bejana Advent Indonesia Timur. 2012. Hlm 10

[14] Masykuri. Op. cit., hlm 76

[16] Masykuri. Op. cit., hlm 79

[17] Kanahele. Op.cit., hlm 219

[18] Pawiloy, Sarita. Sejarah Perjuangan Angkatan 45 di Sulawesi Selatan. Jakarta: Angkatan 45. 1987. Hlm 10

[19] Elson, Robert. The Idea of Indonesia: A History. Cambridge University Press. 2008. Hlm xix

[20] Pawiloy. Op. cit., hlm 86

[21] Abdullah, Taufik. Indonesia: Towards Democracy. Singapore: Institute of Southeast Asian Studies. 2009. Hlm 153

[22] Agung, Ide Anak Agung Gde. From The Formation of the State of Indonesia Towards The Establishment of the United States of Indonesia. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia. 1996. Hlm 51

[23] Masykuri. Op. cit., hlm 103-104

[24] Agung. Op. cit., hlm 51

[25] Pondaag. Op. cit., hlm 135

[26] Masykuri. Op. cit., hlm 108

[29] Masykuri. Op. cit., hlm 109

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Geliat Industri Pertambangan Minyak Era Hindia Belanda: Dari Royal Dutch-Shell Hingga Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM)

Kantor Pusat Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM) di Batavia, sekitar tahun 1935. Sumber: https://www.nationaalarchief.nl    Sejak awal abad ke-20, sektor pertambangan telah menggeser prioritas dari  kuantitas ekspor sektor perkebunan di berbagai belahan dunia, termasuk Hindia Belanda.  Salah satu komoditas pada sektor pertambangan yang berperan penting dalam  menggerakkan industri adalah minyak bumi. Minyak bumi merupakan komoditas yang  dicari oleh negara-negara besar untuk dimanfaatkan dalam berbagai keperluan, seperti  untuk bahan bakar, keperluan perang, dan sebagainya.  Sejatinya, minyak bumi telah  ditemukan oleh masyarakat setempat dan dimanfaatkan untuk keperluan sederhana.  Walaupun minyak bumi sudah dimanfaatkan sejak lama, saat itu minyak bumi masih  dikategorikan sebagai barang bebas, belum menjadi barang yang bernilai  ekonomi. Dengan adanya perkembangan ilmu kimia  yang semakin maju, lambat laun minyak b...

Front Pembela Islam (FPI) dan Kiprahnya dalam Berbangsa dan Bernegara di Indonesia

Gambar 1. Ilustrasi FPI. Sumber: www.liputan6.com       Front Pembela Islam (FPI) atau yang juga dikenal sebagai Islamic Defenders Front merupakan sebuah organisasi berlandaskan Islam yang dicetuskan di Petamburan, Jakarta Pusat, dan resmi berdiri sejak organisasi tersebut dideklarasikan secara terbuka pada 17 Agustus 1998 (25 Robi’uts Tsani 1419 H) di Pondok Pesantren Al-Umm, Ciputat, Tangerang Selatan. Organisasi ini didirikan oleh sejumlah ulama, haba’ib, serta sejumlah aktivis muslim dengan dipelopori oleh seorang tokoh keturunan Hadrami yang bernama Muhammad Rizieq Shihab, yang kini banyak dikenal oleh masyarakat luas sebagai Habib Rizieq Shihab. Makna Nama "Front Pembela Islam" pada FPI      Pemilihan nama “Front Pembela Islam” ini memiliki makna tersendiri. Kata “front” yang berarti “depan”, menunjukkan bahwa organisasi ini selalu berusaha untuk berada di garis terdepan dan memiliki sikap tegas dalam setiap langkah perjuangan yang berasaskan aj...

SNMPTN, Ilmu Sejarah UI, dan Awal Perjuangan Sesungguhnya

Sebelumnya, saya mohon maaf apabila tulisan ini saya buat jauh setelah pengumuman SNMPTN berlangsung, bahkan disaat saya menulis ini, saya sudah mulai mengerjakan beberapa proyek akhir dalam rangka mempersiapkan UAS di kampus saya yang sekarang ini saya huni dalam rangka menuntut salah satu disiplin ilmu yang saya impi-impikan sejak dulu. Jadi, saya putuskan untuk merangkum tulisan-tulisan yang sebelumnya telah saya buat di memo handphone saya yang telah saya buat sejak Januari 2017 silam, dan bahasanya juga agak berbeda, karena disini saya akan menggunakan bahasa saya sehari-hari. Selamat membaca! -------------------------------------------------------------------------------------- Ga terasa, masa-masa SMA udah hampir habis gue lewatin. Banyak banget pelajaran hidup serta kenangan-kenangan yang gue dapet di masa itu. Yang manis ada, yang pahit pun juga ada. Mulai dari kisah pertemanan yang "solid tapi banyak wacana", kisah kebandelan Dhesta dan teman-temanny...