Dari Kelahiran, Masa Kecil, hingga Masa Muda
Dr.
Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangi, atau yang lebih dikenal dengan nama Sam
Ratulangi, merupakan seorang pahlawan nasional Indonesia. Beliau lahir di
Tondano, Minahasa, Sulawesi Utara, Hindia Belanda, pada tanggal 5 November 1890.
Beliau adalah putra dari Jozias Ratulangi dan Augustina Gerungan, yang berasal
dari keluarga yang terpandang[1]. Ayahnya merupakan seorang
guru di Hoofden School (sekolah menengah setingkat SMP yang
diperuntukkan untuk anak-anak dari kepala-kepala desa) di Tondano, dan ibunya
merupakan putri dari Jacob Gerungan, yang menjabat sebagai Kepala Distrik (Mayoor)
Tondano-Touilang.
Sam Ratulangi mengawali pendidikannya di sekolah dasar Belanda yaitu Europeesche Lagere School (ELS) di Tondano, dan setelah lulus beliau melanjutkan pendidikannya di Hoofden School di Tondano. Di masa pendidikannya, beliau merupakan sosok yang menonjol apabila dibandingkan dengan anak-anak seumurannya yang lain karena memiliki wawasan yang lebih, hal itu disebabkan karena beliau memiliki kemampuan membaca yang bagus. Beliau seringkali membaca buku-buku milik ayahnya untuk meningkatkan kemampuan membacanya. Setelah lulus dari Hoofden School, pada tahun 1904 beliau berangkat ke Jawa untuk melanjutkan pendidikannya di sekolah pendidikan dokter pribumi di Batavia yakni STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen) setelah menerima beasiswa dari sekolah tersebut. Namun sesampainya di Batavia, beliau kemudian berubah pikiran dan memutuskan untuk belajar di sekolah teknik Koningin Wilhelmina School (KWS)[2]. Beliau lulus pada tahun 1908 dan mulai bekerja pada konstruksi rel kereta api di daerah Priangan Selatan, Jawa Barat.
Sam Ratulangi (kanan) bersama sepupunya, circa 1910.
Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Sam_Ratulangi
Ketika
beliau bekerja sebagai teknisi perkeretaapian di Priangan Selatan, beliau
mendapat perlakuan yang tidak adil dalam hal upah dan penginapan karyawan,
serta memperoleh diskriminasi antara pegawai pribumi dengan pegawai Indo[3]. Hal itulah yang kemudian
membuat rasa nasionalismenya tumbuh dan membuatnya berpikiran bahwa sistem
diskriminasi seperti ini harus diatasi. Oleh karena itu, cita-citanya untuk
melanjutkan pendidikan semakin tinggi karena menurutnya dengan pendidikanlah
maka sistem diskriminasi dapat diatasi. Kemudian pada tahun 1912 barulah Sam
Ratulangi berangkat ke Amsterdam, Belanda, untuk melanjutkan pendidikannya.
Beliau menempuh pendidikan di sebuah universitas di Amsterdam[4] selama dua tahun, namun ia
tidak bisa menyelesaikan studinya karena tidak diperbolehkan mengikuti ujian,
karena ternyata beliau tidak memiliki sertifikat tingkat SMA (dahulu Hoogere
Burgerschool (HBS) atau Algemeene Middelbare School (AMS)) yang
menjadi syarat dari universitas tempatnya belajar saat itu. Kemudian atas saran
dari Mr. Abendanon, seorang berkebangsaan Belanda yang bersimpati terhadap
orang-orang Hindia, akhirnya beliau mendaftarkan diri dan diterima di
Universitas Zurich di Swiss[5].
Selama
di Amsterdam, beliau sering bertemu dengan Sosro Kartono yang merupakan saudara
dari RA Kartini, serta tiga pendiri Indische Partij yaitu Ernest Douwes Dekker,
Tjipto Mangoenkoesoemo, dan Soewardi Soerjaningrat. Beliau juga aktif dalam
organisasi Indische Vereeniging (Perhimpunan Indonesia) dan terpilih
sebagai ketua Perhimpunan Indonesia pada tahun 1914. Sementara di Swiss, beliau
aktif dalam organisasi Associations d'étudiants Asiatiques (Asosiasi
Mahasiswa Asia) di mana ia bertemu dengan Jawaharlal Nehru dari India[6]. Beliau juga aktif dalam
menulis berbagai artikel. Kemudian pada sekitar tahun 1919, Sam Ratulangi
kembali ke Indonesia dan mengajar mata pelajaran matematika dan sains selama
tiga tahun di sekolah teknik Prinses Juliana School[7].
Kemudian beliau pindah ke Bandung dan memulai perusahaan asuransi dengan
Roland Tumbelaka, seorang dokter yang juga berasal dari Minahasa, dengan nama Assurantie
Maatschappij Indonesia.
Sam Ratulangi bersama anggota-anggota lainnya di depan Gedung Minahassa Raad.
Berkiprah di Bidang Politik
Sam Ratulangi memulai kariernya di bidang politik untuk pertama kalinya pada tahun 1923, ketika beliau dicalonkan oleh Partai Perserikatan Minahasa (Jong Minahasa) untuk menjadi sekretaris badan perwakilan daerah Minahasa di Manado yang bernama Minahassa Raad. Beliau resmi menjabat posisi tersebut sejak tahun 1924 hingga tahun 1927. Selama berkiprah di Minahassa Raad, beliau memperjuangkan hak-hak warga Minahasa yang banyak tertindas akibat pemerintahan kolonial Belanda kala itu. Beliau beserta para anggota Minahassa Raad yang lain menuntut penghapusan kerja paksa atau yang biasa disebut Heerendiensten, yang menjadi akar permasalahan tidak sejahteranya rakyat Minahasa di masa pemerintahan kolonial.
Beliau juga berperan dalam pembukaan daerah Modoinding dan Kanarom di Minahasa Selatan untuk transmigrasi dan pembentukan yayasan untuk membiayai pendidikan siswa-siswa Minahasa yang membutuhkan[8]. Lalu beliau diangkat menjadi anggota Volksraad pada tahun 1927 mewakili rakyat Minahasa, dan mendukung nasionalisme Indonesia dengan menjadi anggota Fraksi Kebangsaan yang dimulai oleh Mohammad Husni Thamrin, yang merupakan salah satu sponsor dari Petisi Soetardjo yang menyatakan keinginan untuk menjadi sebuah negara yang merdeka melalui reformasi bertahap yang dicapai dalam waktu sepuluh tahun[9]. Petisi ini melewati Volksraad namun tidak diterima oleh pemerintah kolonial Belanda. Sam Ratulangi tidak ragu untuk mengkritik pemerintah kolonial hingga akhirnya pemerintah kolonial menganggap Ratulangi sebagai risiko yang cukup berbahaya bagi mereka. Ratulangi tetap aktif di Volksraad hingga tahun 1937 dan di tahun tersebut beliau ditangkap karena pandangan politiknya, dan beliau dipenjarakan selama beberapa bulan di Penjara Sukamiskin yang terletak di Bandung[10].
Setelah dibebaskan dari
penjara pada tahun 1938, beliau menjadi editor sebuah majalah berita berbahasa
Belanda yaitu Nationale Commentaren[11]. Beliau menggunakan
majalah tersebut untuk menyuarakan pendapat-pendapatnya yang menentang tindakan
pemerintah kolonial yang dirasa tidak adil kepada rakyat pribumi serta
bertujuan untuk membuat seluruh orang Indonesia sadar akan keadaan yang sedang
terjadi pada masa itu.
Sam Ratulangi (di podium) bersiap memberikan pidato di Volksraad, circa 1927.
Berkiprah (juga) di Bidang Akademik
Selain
berkiprah di bidang politik, Sam Ratulangi juga aktif berkiprah dalam bidang akademik.
Beliau adalah salah satu pendiri Persatuan Cendekiawan Indonesia (Vereeniging
van Indonesische Academici) yang didirikan pada tahun 1932[12]. Pada tahun 1937, buku
beliau yang berjudul “Indonesia in de Pacific” diterbitkan. Buku
tersebut dianggap visioner dalam isinya, yang berupa peringatan dari Sam
Ratulangi bahwa Jepang mungkin saja akan menyerang kepulauan Indonesia karena
sumber daya alam yang dimiliki oleh Indonesia tidak dimiliki oleh Jepang.
Beliau menggambarkan dalam buku tersebut mengenai peran utama Indonesia dan
negara-negara lain di Asia Tenggara di sekitar Lingkar Pasifik. Selain itu,
beliau juga termasuk dalam kelompok pemimpin gereja dan nasionalis yang di
dalamnya juga termasuk Bernard Wilhelm Lapian dan Alexander Andries Maramis,
yang menginginkan sebuah denominasi gereja yang bebas dan terpisah dari lembaga
gereja resmi Hindia Belanda yang disebut Protestantsche Kerk di
Nederlandsch-Indie atau yang lebih dikenal dengan sebutan Indische Kerk.
Pada tahun 1933, kemudian didirikan Kerapatan Gereja Protestan Minahasa, yaitu
sebuah gereja yang terpisah dari lembaga gereja resmi Hindia Belanda[13].
Ketika
masa pendudukan Jepang tepatnya pada tahun 1943, Sam Ratulangi ditugaskan
sebagai penasihat untuk pemerintah militer pendudukan Jepang[14]. Pada tahun 1944, beliau
dipindahkan ke Sulawesi Selatan untuk menjadi penasihat pemerintah militer di
Makassar, yang ketika itu masuk ke wilayah timur yang dikendalikan oleh
Angkatan Laut Jepang[15]. Kemudian pada bulan Juni
1945, Sam Ratulangi mendirikan sebuah organisasi bernama Sumber Darah Rakyat
(SUDARA), yang bertujuan untuk membangkitkan sentimen nasionalis di Sulawesi
dalam mengantisipasi kemungkinan kemerdekaan dalam waktu dekat[16].
Terlibat dalam Pendirian Bangsa
Pada
awal bulan Agustus 1945, Sam Ratulangi diangkat sebagai salah satu anggota
Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) mewakili wilayah Sulawesi[17]. Ketika proklamasi
kemerdekaan Republik Indonesia dilaksanakan pada tanggal 17 Agustus 1945,
beliau hadir dalam upacara tersebut karena beliau baru saja datang bersama
anggota PPKI lainnya dari wilayah timur untuk mengikuti rapat PPKI, yang
kemudian dikenal dengan sebutan Sidang PPKI[18]. Sidang PPKI yang
dilaksanakan pada hari berikutnya, tepatnya pada tanggal 18 Agustus 1945
menghasilkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia, pengangkatan
Soekarno dan Mohammad Hatta sebagai presiden dan wakil presiden, serta
pembagian wilayah-wilayah administratif negara Republik Indonesia menjadi 8
provinsi, dimana kemudian Sam Ratulangi diangkat menjadi Gubernur Sulawesi[19]. Kemudian beliau kembali
ke Makassar dan secara resmi mengumumkan proklamasi kemerdekaan disana.
Sketsa wajah Sam Ratulangi. Sumber: https://m.facebook.com/lani.ratulangi
Diasingkan ke Serui
Tak
lama setelah diumumkannya proklamasi kemerdekaan oleh Sam Ratulangi di
Makassar, pada bulan September 1945 pasukan Sekutu yang dipimpin oleh Brigadir
Jenderal Ivan Dougherty beserta pasukan NICA (Netherlands Indies Civil
Administration) dan KNIL (Koninklijk Nederlandsch-Indische Leger)
besutan Belanda tiba di Makassar, dan mereka siap untuk mengambil alih wilayah
Hindia Belanda kembali. Tak tinggal diam, para pemuda daerah Sulawesi bersiap
untuk berjuang dengan segala cara untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia[20]. Bersamaan dengan hal
tersebut, Sam Ratulangi juga mendapatkan dukungan dari raja-raja adat setempat,
termasuk Kesultanan Bone dan Kedatuan Luwu yang menyatakan dukungan terhadap
Republik Indonesia yang baru didirikan[21]. Beliau mampu mengadakan
negosiasi dengan pihak-pihak terkait dalam upaya menjaga perdamaian dan mampu
membentuk pemerintah daerah yang beroperasi hingga sembilan bulan, hingga
kemudian pada tanggal 5 April 1946 beliau beserta beberapa stafnya ditangkap dan
ditahan oleh polisi militer Belanda. Mereka dipenjarakan selama tiga bulan dan
kemudian diasingkan ke wilayah Serui, yang terletak di Kepulauan Yapen di Papua
Barat[22]. Selama pengasingannya di
Serui, beliau berinteraksi dengan masyarakat setempat dengan mendirikan sekolah
lokal dan organisasi sosial untuk membantu para wanita dalam komunitas[23].
Sam Ratulangi. Sumber: https://m.facebook.com/lani.ratulangi
Dari Pembebasan hingga Akhir Hayat
Setelah
penandatanganan perjanjian Renville resmi berlaku pada tanggal 23 Maret 1948, barulah
kemudian Belanda melepaskan Sam Ratulangi beserta rekan-rekannya[24]. Mereka dipindahkan ke
Surabaya dan kemudian dikawal ke garis demarkasi dekat wilayah Mojokerto dan
Jombang untuk menuju ke ibukota Republik Indonesia di Yogyakarta. Kemudian
beliau ditunjuk sebagai penasihat khusus untuk pemerintah Indonesia serta
sebagai anggota delegasi Indonesia dalam negosiasi dengan pihak Belanda. Selain
itu, beliau juga mengunjungi pasukan Indonesia di Jawa Timur dan menghadiri
konferensi keuangan di wilayah Kaliurang, Yogyakarta[25]. Ketika Agresi Militer
Belanda II berlangsung, wilayah Yogyakarta dikuasai Belanda dan Soekarno
beserta Mohammad Hatta ditangkap dan diasingkan ke wilayah Bangka. Sementara
Sam Ratulangi ditangkap oleh pihak Belanda pada tanggal 25 Desember 1948 dan
dipindahkan ke Jakarta pada tanggal 12 Januari 1949 untuk selanjutnya
diasingkan ke Bangka seperti halnya Soekarno dan Hatta. Namun karena masalah
kesehatan yang dialami oleh beliau pada saat itu, beliau diizinkan untuk
tinggal di Jakarta sebagai tahanan rumah[26]. Sam Ratulangi meninggal
di Batavia dalam masa tahanannya pada tanggal 30 Juni 1949[27]. Beliau dimakamkan
sementara di Tanah Abang, dan pada tanggal 23 Juli 1949 jenazahnya diangkut ke
Manado dengan menggunakan kapal KPM Swartenhondt[28]. Pada tanggal 1 Agustus
1949 jenazahnya sampai di Manado dan di hari berikutnya jenazahnya dibawa untuk
dimakamkan di kampung halamannya di Tondano[29].
Peti jenazah Sam Ratulangi dibawa dari rumah duka di
Tondano menuju pemakaman. Sumber: https://m.facebook.com/lani.ratulangi
Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional
Pada
bulan Agustus 1961, Sam Ratulangi dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia
secara anumerta oleh Soekarno berdasarkan Surat Keputusan Presiden Republik
Indonesia No. 590 tahun 1961[30]. Beliau juga menerima
anugerah Bintang Gerilya pada tahun 1958, Bintang Mahaputra Adipradana pada
tahun 1960, dan Bintang Satyalancana pada tahun 1961, dan ketiganya diberikan
secara anumerta[31].
Sam Ratulangi sangat terkenal di wilayah Sulawesi, terlebih di wilayah
Minahasa. Namanya diabadikan sebagai nama jalan-jalan utama di semua kota di
Minahasa, seperti Bitung, Tondano, Tomohon, dan Manado. Selain itu, namanya
juga diabadikan sebagai nama bandar udara internasional di Manado yang bernama Sam
Ratulangi International Airport atau Bandar Udara Internasional Sam
Ratulangi, serta nama sebuah universitas negeri di Manado yang bernama
Universitas Sam Ratulangi, atau yang kini lebih dikenal dengan sebutan Unsrat.
Tak hanya itu, pada tahun 2016 Kementerian Keuangan Republik Indonesia
mengeluarkan uang baru seri 2016 dimana dalam pecahan uang sebesar dua puluh
ribu rupiah menggambarkan sosok Sam Ratulangi di bagian depan.
Het
universiteitsgebouw van de Sam Ratulangi Universiteit
(Gedung Rektorat Universitas Sam Ratulangi), circa 1981. Sumber: https://collectie.wereldculturen.nl
Dr.
G.S.S.J Ratulangi dalam bagian depan uang Rp 20.000 tahun emisi 2016. Sumber: www.bi.go.id
DAFTAR PUSTAKA
Surat
Kabar
“Dr. Ratulangi Overleden” (Dr. Ratulangi
Meninggal, tertulis dalam Bahasa Belanda). Algemeen Handelsblad. 1 Juli
1949. pag. 4. Diakses melalui https://www.delpher.nl/nl/kranten/view?query=ratulangi&coll=ddd&identifier=KBNRC01:000087826:mpeg21:a0036&resultsidentifier=KBNRC01:000087826:mpeg21:a0036
pada 11 September 2020 pukul 12.10 WIB
“Plechtige Uitvaart Dr. Ratulangi”
(Pemakaman Hikmat Dr. Ratulangi, tertulis dalam Bahasa Belanda). Het
Dagblad: uitgave van de Nederlandsche Dagbladpers te Batavia. 23 Juli 1949.
Pag. 2. Diakses melalui https://www.delpher.nl/nl/kranten/view?query=plechtige+uitvaart+ratulangi&coll=ddd&identifier=ddd:010898484:mpeg21:a0048&resultsidentifier=ddd:010898484:mpeg21:a0048
pada 11 September 2020 pukul 12.15 WIB
Buku
Abdullah, Taufik. 2009. Indonesia:
Towards Democracy. Singapore: Institute of Southeast Asian Studies.
Agung, Ide Anak Agung Gde. 1996. From
the Formation of the State of Indonesia Towards the Establishment of the United
States of Indonesia. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
Elson, Robert. 2008. The Idea of
Indonesia: A History. Cambridge University Press.
Kanahele, George S. 1967. The Japanese
Occupation of Indonesia: Prelude to Independence (PhD). Cornell University.
Masykuri. 1985. Dr. GSSJ Ratulangi.
Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
Mirnawati. 2012. Kumpulan Pahlawan Indonesia
Terlengkap. Jakarta: Cerdas Interaktif.
Parengkuan, Fendy. 1982. A. A. Maramis,
SH. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
Pawiloy, Sarita. 1987. Sejarah
Perjuangan Angkatan 45 di Sulawesi Selatan. Jakarta: Angkatan 45.
Pondaag, W. S. T. 1966. Pahlawan
Kemerdekaan Nasional Mahaputera Dr. G. S. S. J. Ratulangie: Riwajat Hidup dan
Perdjoangannja. Surabaja: Jajasan Penerbitan Dr. G. S. S. J. Ratulangie.
Suwondo, Bambang. 1978. Sejarah
Kebangkitan Nasional Daerah Sulawesi Utara. Jakarta: Departemen Pendidikan
dan Kebudayaan Republik Indonesia.
Jurnal
Abeyasekere, Susan. “The Soetardjo
Petition” dalam Indonesia (ditulis dalam Bahasa Inggris) No. 15, Apr
1973, pp. 81-108 (p. 84). Cornell University Press; Southeast Asia Program
Publications at Cornell University. Diakses melalui www.jstor.org/stable/3350793
pada 11 September 2020 pukul 08.40 WIB
Taroreh, Osvald. 2012. “Pionir Gereja dan
Pahlawan Kemerdekaan dari Minahasa: Bernard Wilhelm Lapian”. Bejana Advent
Indonesia Timur.
[1]
Masykuri. Dr. GSSJ Ratulangi. Jakarta: Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan Republik Indonesia. 1985. hlm 5
[2]
Ibid., hlm 17
[3]
Orang Indo (singkatan dari Indo-Europeanen atau Eropa-Hindia) merupakan
kelompok etnis peranakan Eropa dengan Indonesia (atau Hindia Belanda pada masa
itu). Lihat Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi V, kata kunci: indo
[4]
Beberapa sumber menyebutkan bahwa Sam Ratulangi menempuh pendidikan di
Universiteit van Amsterdam semasa di Belanda, namun sumber lain menyebutkan
bahwa Sam Ratulangi menempuh pendidikan di Vrije Universiteit Amsterdam.
[5]
Parengkuan, Fendy. A. A. Maramis, SH. Jakarta: Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan Republik Indonesia. 1982. hlm 31
[6]
Pondaag, W. S. T. Pahlawan Kemerdekaan Nasional Mahaputera Dr. G. S. S. J.
Ratulangie: Riwajat Hidup dan Perdjoangannja. Surabaja: Jajasan Penerbitan
Dr. G. S. S. J. Ratulangie. 1966. hlm 25
[7]
Masykuri. Op. cit,. hlm 27
[8]
Ibid., hlm 32
[9]
Abeyasekere, Susan. “The Soetardjo Petition” dalam Indonesia (ditulis
dalam Bahasa Inggris) No. 15, Apr 1973, pp. 81-108 (p. 84). Cornell University
Press; Southeast Asia Program Publications at Cornell University. Diakses
melalui www.jstor.org/stable/3350793
pada 11 September 2020 pukul 08.40 WIB
[10]
Masykuri. Op. cit., hlm 37-45
[11]
Pondaag. Op. cit., hlm 135
[12]
Pondaag. Op. cit., hlm 25
[13]
Taroreh, Osvald. “Pionir Gereja dan Pahlawan Kemerdekaan dari Minahasa: Bernard
Wilhelm Lapian”. Bejana Advent Indonesia Timur. 2012. Hlm 10
[14]
Masykuri. Op. cit., hlm 76
[15] Kanahele, George S. The Japanese Occupation of
Indonesia: Prelude to Independence (PhD). Cornell University. 1967. Hlm 112
[16]
Masykuri. Op. cit., hlm 79
[17]
Kanahele. Op.cit., hlm 219
[18]
Pawiloy, Sarita. Sejarah Perjuangan Angkatan 45 di Sulawesi Selatan. Jakarta:
Angkatan 45. 1987. Hlm 10
[19]
Elson, Robert. The Idea of Indonesia: A History. Cambridge University Press.
2008. Hlm xix
[20]
Pawiloy. Op. cit., hlm 86
[21]
Abdullah, Taufik. Indonesia: Towards Democracy. Singapore: Institute of
Southeast Asian Studies. 2009. Hlm 153
[22]
Agung, Ide Anak Agung Gde. From The Formation of the State of Indonesia Towards
The Establishment of the United States of Indonesia. Jakarta: Yayasan
Pustaka Obor Indonesia. 1996. Hlm 51
[23]
Masykuri. Op. cit., hlm 103-104
[24]
Agung. Op. cit., hlm 51
[25]
Pondaag. Op. cit., hlm 135
[26]
Masykuri. Op. cit., hlm 108
[27] “Dr. Ratulangi Overleden” (Dr. Ratulangi Meninggal, tertulis
dalam Bahasa Belanda). Algemeen Handelsblad. 1 Juli 1949, pagina 4.
Diakses melalui https://www.delpher.nl/nl/kranten/view?query=ratulangi&coll=ddd&identifier=KBNRC01:000087826:mpeg21:a0036&resultsidentifier=KBNRC01:000087826:mpeg21:a0036 pada 11 September 2020 pukul 12.10 WIB
[28] “Plechtige Uitvaart Dr. Ratulangi” (Pemakaman Hikmat Dr.
Ratulangi, tertulis dalam Bahasa Belanda). Het dagblad: uitgave van de
Nederlandsche Dagbladpers te Batavia. 23 Juli 1949. Pagina 2. Diakses
melalui https://www.delpher.nl/nl/kranten/view?query=plechtige+uitvaart+ratulangi&coll=ddd&identifier=ddd:010898484:mpeg21:a0048&resultsidentifier=ddd:010898484:mpeg21:a0048 pada 11 September 2020 pukul 12.15 WIB
[29]
Masykuri. Op. cit., hlm 109


Komentar
Posting Komentar