Langsung ke konten utama
halo semuanya! menuju penghujung tahun 2018, gue hadir kembali dalam tulisan yg-ketauan-dibuat-saat-gue-gabut ini. selamat datang!

1 November 2018 lalu adalah hari dimana gue kembali mencoba (tepatnya, me refresh) kegiatan gue yg lalu lalu.
apa itu?

TARI!!!!!!

whoa❤️

setelah melalui serangkaian latihan yang tidak jarang pasti tercampur bumbu bumbu makian sampe kadang bikin bad mood, akhirnya kami dapat menampilkan tari tradisional mewakili prodi Ilmu Sejarah yang Insya Allah terbaik :)

kenapa pede banget ngambil tari, dhes?
karena... gue mencoba untuk kembali menengok ke masa lalu gue soal tari tarian. ada lho. sumpah.

jadi gini....

awal karier gue dalam bidang tari tarian itu bermula saat gue TK, dimana gue mulai dikirim ngewakilin TK gue buat lomba tari sana sini, dari mulai dari tingkat kecamatan sampe tingkat provinsi.
tari tradisional lho ya, bukan tari modern.
dan Alhamdulillah dulu menang mulu, kalo ga juara 1, 2, ya 3.
itu berlanjut sampe gue sd, terlebih awalnya gue sd di blora dulu kan ya sebelum akhirnya pindah ke jkt.
ikutlah gue sanggar tari yg kebetulan si empunya sanggar tsb adalah temennya mama gue.
tapi gak lama karena gue pindah ke jkt kan.
setelah pindah, saat itu gue kelas 3 sd kan ya, dan di sd gue sempet ada sanggar tari gitu yg diadain atas prakarsa dari salah satu orangtua murid kakak kelas gue.
nah ikutlah gue disitu, dan uniknya disitu yg ikut dari kelas gue cuma gue doang. temen sekelas gue gaada yg ikut. so sad :(
gue dulu di kelas 3A, dan yg ikut sanggar tari itu kebanyakan anak² dari kelas 3B, bangsa bangsanya katri hanny sabrina tiarasandra gtgt dey. gue dulu pas ikut sanggar tari mainnya sama mereka WKWKWK
tapi di sd, gapernah ikut lomba tari gue. ya sama, yg lain juga gitu.
cuma ngisi acara di sd doang kalo lagi ada acara gede semacam perpisahan gtgt.
tapi, akhirnya gue keluar dari sanggar tari itu ketika gue memasuki kelas 4.

lho, kenapa keluar? sayang banget :(

karena... gue merasa bahwa saat itu gue capek banget, gue pengen main kaya biasa aja kaya temen2 sekelas gue yg lain, yg ada di kelas 4A...
kayaknya hidup mereka tenang gt anjir, gue mikirnya gitu dulu WKWK
tapi jujur ya, sekarang gue jadi nyesel kenapa gue gak lanjutin nari gue ya. hm.

oke lanjut lagi ya.
di SMP gue gaada ekskul tari tarian samsek, dan gue pribadi sebenernya saat itu masih b aja asli, belum ada niatan buat lanjutin nari lagi.
terus pas SMA, mulai nih gue ada niatan buat lanjutin nari lagi biar ada kesibukan gt WKWKWK.
ada sih ekskul tari tarian di SMA gue, tapi itu saman, dan gue gak yakin bisa karena tari saman atau ratoeh jaroe dll sejenisnya tuh gak sama kaya tari tradisional yg dulu gue tekunin.
pasti beda.
dan ternyata bener, beda. makanya gue ga berani ikut kan akhirnya.
di sisi lain ketika adek gue yg cewe masuk smp 73, dia dengan pedenya ikut saman dan dia bisa ternyata, udah gitu dia lomba mulu dong :(
oke dhes gapapa gausa iri. basic lu bukan di saman, jangan dipaksa.
terus yaudah abis itu gue langsung berpikir b aja, let it flow gt.
sebagai pelampiasannya, biar gak gabut awalnya gue ikut rohis dulu kan, gue (sangat) dibolehin juga sama orangtua saat itu karena itu menyangkut keagamaan kan.
terus kelas 10 akhir menjelang kelas 11, gue mencoba peruntungan (read : bakat baru?) dengan ikut ekskul film.
hasilnya? yaaaa not bad lah. sama sekali not bad bahkan!
disitu gue justru penasaran sama berbagai macam jobdesc nya.
dan gue melabuhkan diri kepada satu jobdesc yg menurut gue, gue banget. scriptwriter❤️
kenapa scriptwriter? karena dari dulu gue hobi bgt nulis. sesimpel itu. WKWKWK.
sama ada satu lagi sih, gue penasaran sama DoP (Director of Photography) tapi gue gak punya kamera makanya gue gapernah mau mencalonkan diri untuk megang DoP, mending scriptwriter aja modal lappy sama ide doang kelar.
alhasil gue lampiaskan ke hp gue. gue jadi suka foto2 via hp kan tuh.
dan karena itu gue di kampus malah disuruh ngedokum troz sampe terakhir gue jadi PJ Dokumentasi buat acara HF UI 2018.
kalo dipikir pikir rada ganyambung ya tapi ya gimana, orang bener begitu kejadiannya.

dan gue mikir, apa gue tekunin film aja ya gausa tekunin tari lagi....

dan itu tertanam sampe gue masuk dunia kampus.
jaman maba, gue ikutnya olimbud film, the one and only.
awalnya gue juga ngisi form yg lomba tari (tradisional) buat olimbud, tapi gue batalin karena gue takut, gue udah lama bgt ga nari, ga pede gue disituuu HAHAHAHAHA knpsi dhs:(
tapi ya gitu kenyataannya.
terus pas udah selese lomba film, beberapa hari kemudian langsung olimbud tari kan.
pas gue nonton langsung depan mata.... WOANJEEEER KENAPA BAGUS BANGET :(((((((
disitu gue nyesel, se nyesel nyeselnya. jujur.
kenapa gue ga nyoba lagi?

tapi di sisi lain, gue juga suka sama perfilman.
tahun depan gue mau ikut dua duanya sumpah.
tapiii... apakah gue bisa ngatur waktunya?
tari sama film tuh suka bentrok lho jadwal latihan sm jadwal take nya, mengingat pentas sm screeningnya berada dalam waktu yang saling berdekatan.
doain aja, semoga gue gak sibuk2 amat saat itu sehingga gue bisa ikut 2 2 nya.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Geliat Industri Pertambangan Minyak Era Hindia Belanda: Dari Royal Dutch-Shell Hingga Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM)

Kantor Pusat Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM) di Batavia, sekitar tahun 1935. Sumber: https://www.nationaalarchief.nl    Sejak awal abad ke-20, sektor pertambangan telah menggeser prioritas dari  kuantitas ekspor sektor perkebunan di berbagai belahan dunia, termasuk Hindia Belanda.  Salah satu komoditas pada sektor pertambangan yang berperan penting dalam  menggerakkan industri adalah minyak bumi. Minyak bumi merupakan komoditas yang  dicari oleh negara-negara besar untuk dimanfaatkan dalam berbagai keperluan, seperti  untuk bahan bakar, keperluan perang, dan sebagainya.  Sejatinya, minyak bumi telah  ditemukan oleh masyarakat setempat dan dimanfaatkan untuk keperluan sederhana.  Walaupun minyak bumi sudah dimanfaatkan sejak lama, saat itu minyak bumi masih  dikategorikan sebagai barang bebas, belum menjadi barang yang bernilai  ekonomi. Dengan adanya perkembangan ilmu kimia  yang semakin maju, lambat laun minyak b...

Front Pembela Islam (FPI) dan Kiprahnya dalam Berbangsa dan Bernegara di Indonesia

Gambar 1. Ilustrasi FPI. Sumber: www.liputan6.com       Front Pembela Islam (FPI) atau yang juga dikenal sebagai Islamic Defenders Front merupakan sebuah organisasi berlandaskan Islam yang dicetuskan di Petamburan, Jakarta Pusat, dan resmi berdiri sejak organisasi tersebut dideklarasikan secara terbuka pada 17 Agustus 1998 (25 Robi’uts Tsani 1419 H) di Pondok Pesantren Al-Umm, Ciputat, Tangerang Selatan. Organisasi ini didirikan oleh sejumlah ulama, haba’ib, serta sejumlah aktivis muslim dengan dipelopori oleh seorang tokoh keturunan Hadrami yang bernama Muhammad Rizieq Shihab, yang kini banyak dikenal oleh masyarakat luas sebagai Habib Rizieq Shihab. Makna Nama "Front Pembela Islam" pada FPI      Pemilihan nama “Front Pembela Islam” ini memiliki makna tersendiri. Kata “front” yang berarti “depan”, menunjukkan bahwa organisasi ini selalu berusaha untuk berada di garis terdepan dan memiliki sikap tegas dalam setiap langkah perjuangan yang berasaskan aj...

SNMPTN, Ilmu Sejarah UI, dan Awal Perjuangan Sesungguhnya

Sebelumnya, saya mohon maaf apabila tulisan ini saya buat jauh setelah pengumuman SNMPTN berlangsung, bahkan disaat saya menulis ini, saya sudah mulai mengerjakan beberapa proyek akhir dalam rangka mempersiapkan UAS di kampus saya yang sekarang ini saya huni dalam rangka menuntut salah satu disiplin ilmu yang saya impi-impikan sejak dulu. Jadi, saya putuskan untuk merangkum tulisan-tulisan yang sebelumnya telah saya buat di memo handphone saya yang telah saya buat sejak Januari 2017 silam, dan bahasanya juga agak berbeda, karena disini saya akan menggunakan bahasa saya sehari-hari. Selamat membaca! -------------------------------------------------------------------------------------- Ga terasa, masa-masa SMA udah hampir habis gue lewatin. Banyak banget pelajaran hidup serta kenangan-kenangan yang gue dapet di masa itu. Yang manis ada, yang pahit pun juga ada. Mulai dari kisah pertemanan yang "solid tapi banyak wacana", kisah kebandelan Dhesta dan teman-temanny...