apa yang terlintas di pikiranmu kala mendengar kata "Depok"?
pinggiran Jakarta.
panas. gersang. macet.
makanannya mahal-mahal.
orang-orangnya barbar.
dan semacamnya.
atau, mungkin dalam konteks lain lagi yang pasti berbeda-beda tiap orang.
namun bagiku, Depok tidak hanya seperti yang digambarkan di atas tadi.
Depok, bagiku bukan hanya sekadar tempat biasa.
Depok adalah rumah keduaku setelah Blora untuk saat ini, dimana banyak waktu yang telah terhabiskan disini
dengan segala kenangan yang mampu dihadirkan, melalui orang-orang yang berbeda...
seperti misalnya, terjatuh di lingkungan FIB sampai tidak bisa jalan selama 3 sampai 4 hari, dibawa ke klinik terdekat menggunakan ambulans, dijenguk ke kosan, juga ngambis dalam keadaan sakit di satu matkul yang ternyata nilai yang didapat sangatlah abstrak dan rata, dalam artian satu angkatan mendapat nilai yang sama.
dan saking seringnya jatuh disana, teman-teman yang tadinya merasa kasihan menjadi berani menertawakan.
atau, saat-saat ketika menjalani HF.
Makrab.
BOS.
Fesbud.
Olimbud.
JAS.
JKS.
atau hanya sekadar kumpul-kumpul biasa, baik di dpr, ruang hmj, pelataran, maupun di kansas.
disini, aku juga mendapat pelajaran atas banyak hal...
begitu baik dan dekatnya teman-teman kuliah denganku saat ini hingga terasa bagai keluarga kedua, banyak menghabiskan waktu bersama dengan tidak hanya mengedepankan akademik saja sehingga dirasa imbang.
walaupun kalau boleh jujur aku sendiri juga menyukai dunia akademik di jurusanku walau tidak semua matkul aku minati, tetapi tetap saja melalui mereka aku bisa menyadari bahwa apapun yang dilakukan haruslah imbang.
tidak hanya sekadar kuliah-pulang.
padahal sebelumnya, tepatnya sebelum lulus SMA, aku sendiri sempat punya pikiran bahwa aku tidak akan mau untuk turut aktif dalam organisasi maupun kepanitiaan apapun di kampus kelak.
tapi akhirnya aku sadar, bahwa itu salah.
salah besar.
dan beruntung aku dapat tersadar mengenai hal itu ketika masih maba.
dan disini pula aku merasa bahwa hidupku menjadi lebih berwarna, tidak lagi cenderung datar seperti kehidupanku di masa-masa sebelumnya.
sungguh, bisa juga kukatakan disini kalau Depok tidak seburuk itu.
walaupun Depok tidak sebaik daerah-daerah rantau lain, namun percayalah, menjalani hidup di Depok tidak seburuk yang kalian kira.
Depok, 1 Maret 2019, 05.07 WIB.
pinggiran Jakarta.
panas. gersang. macet.
makanannya mahal-mahal.
orang-orangnya barbar.
dan semacamnya.
atau, mungkin dalam konteks lain lagi yang pasti berbeda-beda tiap orang.
namun bagiku, Depok tidak hanya seperti yang digambarkan di atas tadi.
Depok, bagiku bukan hanya sekadar tempat biasa.
Depok adalah rumah keduaku setelah Blora untuk saat ini, dimana banyak waktu yang telah terhabiskan disini
dengan segala kenangan yang mampu dihadirkan, melalui orang-orang yang berbeda...
seperti misalnya, terjatuh di lingkungan FIB sampai tidak bisa jalan selama 3 sampai 4 hari, dibawa ke klinik terdekat menggunakan ambulans, dijenguk ke kosan, juga ngambis dalam keadaan sakit di satu matkul yang ternyata nilai yang didapat sangatlah abstrak dan rata, dalam artian satu angkatan mendapat nilai yang sama.
dan saking seringnya jatuh disana, teman-teman yang tadinya merasa kasihan menjadi berani menertawakan.
atau, saat-saat ketika menjalani HF.
Makrab.
BOS.
Fesbud.
Olimbud.
JAS.
JKS.
atau hanya sekadar kumpul-kumpul biasa, baik di dpr, ruang hmj, pelataran, maupun di kansas.
disini, aku juga mendapat pelajaran atas banyak hal...
begitu baik dan dekatnya teman-teman kuliah denganku saat ini hingga terasa bagai keluarga kedua, banyak menghabiskan waktu bersama dengan tidak hanya mengedepankan akademik saja sehingga dirasa imbang.
walaupun kalau boleh jujur aku sendiri juga menyukai dunia akademik di jurusanku walau tidak semua matkul aku minati, tetapi tetap saja melalui mereka aku bisa menyadari bahwa apapun yang dilakukan haruslah imbang.
tidak hanya sekadar kuliah-pulang.
padahal sebelumnya, tepatnya sebelum lulus SMA, aku sendiri sempat punya pikiran bahwa aku tidak akan mau untuk turut aktif dalam organisasi maupun kepanitiaan apapun di kampus kelak.
tapi akhirnya aku sadar, bahwa itu salah.
salah besar.
dan beruntung aku dapat tersadar mengenai hal itu ketika masih maba.
dan disini pula aku merasa bahwa hidupku menjadi lebih berwarna, tidak lagi cenderung datar seperti kehidupanku di masa-masa sebelumnya.
sungguh, bisa juga kukatakan disini kalau Depok tidak seburuk itu.
walaupun Depok tidak sebaik daerah-daerah rantau lain, namun percayalah, menjalani hidup di Depok tidak seburuk yang kalian kira.
Depok, 1 Maret 2019, 05.07 WIB.
Komentar
Posting Komentar