——————————————————————————
—sedang banyak menangis, memikirkan tema skripsi yang aspek temporalnya belum bisa ditentukan dengan jelas beserta argumennya sedangkan proposal skripsi harus benar-benar diserahkan pada dosen kala UTS....
——————————————————————————
Kamis, 21 Maret 2019
saya melangkah menuju kampus dengan lunglai.
hari itu, jujur, saya agak kurang enak badan karena sempat terbangun sakit di waktu-waktu menjelang subuh; sebenarnya hanya sekadar masuk angin saja, namun saya anggap itu adalah hal biasa, maka dari itu saya tetap nekat untuk menghadiri kelas.
saya melangkah menuju kampus dengan lunglai.
hari itu, jujur, saya agak kurang enak badan karena sempat terbangun sakit di waktu-waktu menjelang subuh; sebenarnya hanya sekadar masuk angin saja, namun saya anggap itu adalah hal biasa, maka dari itu saya tetap nekat untuk menghadiri kelas.
duduk di kelas Kapita Selekta, hawa dingin yang berasal dari AC kelas saat itu begitu dingin menusuk kalbu.
ingin rasanya kelas di hari itu cepat selesai.
ingin rasanya kelas di hari itu cepat selesai.
beberapa jam kemudian, akhirnya usai.
begitu keluar kelas, entah mengapa badan saya merasa lebih 'enteng'. rasa dingin yang tadi begitu menusuk itu perlahan menghilang.
pergi ke Kansas, makan, ngomongin tema skripsi, sambat, ghibah, selesai.
selanjutnya saya bersama dengan sebagian dari 'ceciway' berjalan dengan santai menuju ruang HMJ.
memasuki ruang HMJ, tampak mereka para 'cowo-cowo sejarah' sudah menunggu.
dalam ruangan yang sebegitu luasnya, seperti biasa, kami berghibah ghibah ria dan diselingi dengan rapat PI HF. bukan rapat PI HF yang diselingi dengan ghibah.
memasuki ruang HMJ, tampak mereka para 'cowo-cowo sejarah' sudah menunggu.
dalam ruangan yang sebegitu luasnya, seperti biasa, kami berghibah ghibah ria dan diselingi dengan rapat PI HF. bukan rapat PI HF yang diselingi dengan ghibah.
anak sejarah memang hobi ghibah, baik lelaki maupun perempuan sama saja.
bagi mereka, ghibah sudah bagai separuh hidup mereka.
bagi mereka, ghibah sudah bagai separuh hidup mereka.
beberapa saat kemudian, suasana agak hening.
"nih, gua pengen belajar dari sekarang biar bisa baca paleografi Belanda di ANRI"
—Arief
—Arief
kemudian menatap sebuah buku yang tadi diambilnya dari sebuah kardus berisi penuh buku-buku yang tak lagi terpakai di ruang HMJ.
selanjutnya, mulailah dibaca buku itu.
"......de drie musketiers......"
"eh Dhes, fünf atau vijf sih yang bener? gua lupa..."
"vijf anjir"
"oiya fünf Jerman ya baru inget"
"iyaa Rip, fünf tuh Jerman, kalo Belanda vijf"
"kalo neun sama negen, neun Jerman kan? negen Belanda?"
"iyaaa neun tuh Jerman. kalo Belanda negen"
"gua suka ketuker-tuker dah antara Jerman sama Belanda"
"SAMA!"
kemudian kami saling tertawa.
"vijf anjir"
"oiya fünf Jerman ya baru inget"
"iyaa Rip, fünf tuh Jerman, kalo Belanda vijf"
"kalo neun sama negen, neun Jerman kan? negen Belanda?"
"iyaaa neun tuh Jerman. kalo Belanda negen"
"gua suka ketuker-tuker dah antara Jerman sama Belanda"
"SAMA!"
kemudian kami saling tertawa.
meanwhile, dalam hatiku :
*HAHAHAHA orang-orang yang ga dapet Jerman di SMA nya can't relate*
*HAHAHAHA orang-orang yang ga dapet Jerman di SMA nya can't relate*
"anjay Dhesta, hollandsche-spreken"
—Pippo
—Pippo
"berisik lu Pip ah"
"lu lu semua harus tau, di kelas Belanda Sumber yang sama Mas Bondan kemaren tuh ada 2 nederlands-spreken! pertama Dhesta, kedua Onggo! demi Allah udah beneran kea orang Belanda anjir disitu mereka"
—Sukron
—Sukron
*kelas Belanda Sumber yang sama Mas Agus can't relate*
...
dalam hati,
"aduh, kenapa topik bahasannya tiba-tiba bisa jadi merujuk ke hal-hal yang begitu sih, malez deh w,,,,"
"aduh, kenapa topik bahasannya tiba-tiba bisa jadi merujuk ke hal-hal yang begitu sih, malez deh w,,,,"
...
"Onggo kemarin dapet A- Belanda Sumbernya anjir, gila gak tuh"
"anjeeeeeeer"
"wah gila gila"
"wah gila gila"
"Dhes, lu berapa kemarin Belanda Sumber?"
"hehehehe"
"berapa maliiiih. hehe hehe ae lu"
"A-"
"hehehehe"
"berapa maliiiih. hehe hehe ae lu"
"A-"
saya diam, berusaha untuk menunduk dan tersenyum malu-malu.
seraya berujar dalam hati,
"plis jangan dihujat plis plis plissss..."
"plis jangan dihujat plis plis plissss..."
kemudian.....
"ANAK BUPATIIIII!"
—Naufal
—Naufal
"tuh kan anying orang-orang B+ semua, mereka berdua doang yang dapet A-. udah ini mah fix nederlands-spreken gaada obatnye"
—Sukron
—Sukron
"tae la pantesan ae lu disuruh Mas Bondan ganti periodisasi jadi ke era Belanda. ternyata...."
"iya anjir, yang lain disuruhnya mundurin ga jauh-jauh amat, palingan cuma ke Orde Lama atau engga ya Orde Baru doang. lu doang Dhes emang dah yang disuruh mundurin sampe ke era Belanda"
"akal akalan ege Dhes itu"
"udah gapapa Dhes bahas kolonial, temenin gua ntar di ANRI"
—Pippo
—Pippo
sungguh, sebenarnya saya merasakan dua hal ketika menanggapi hal tersebut.
di satu sisi, saya sempat berpikir bahwa "oh ternyata begini pandangan orang mengenai saya".
di satu sisi, saya sempat berpikir bahwa "oh ternyata begini pandangan orang mengenai saya".
namun di sisi lain sebenarnya saya agak risih, karena saya bukanlah tipikal orang yang suka dipuji, bahkan untuk bisa menelan mentah-mentah setiap pujian yang pernah terlontar dari mulut orang lain.
di sisi yang lain lagi, justru tiba-tiba terbersit pikiran soal tema skripsi yang belum jelas, kembali.
".....mending kolonial atau kontemporer ya....."
kemudian, saya teringat pada suatu hal.
"oh iya, gue belum kontak Mas Agus! apa kabar Metode Sejarah gue nanti, mau bilang apa gue ke Mas Bondan...."
Komentar
Posting Komentar