Langsung ke konten utama

mau cerita aja


——————————————————————————
—sedang banyak menangis, memikirkan tema skripsi yang aspek temporalnya belum bisa ditentukan dengan jelas beserta argumennya sedangkan proposal skripsi harus benar-benar diserahkan pada dosen kala UTS....
——————————————————————————



Kamis, 21 Maret 2019
saya melangkah menuju kampus dengan lunglai.
hari itu, jujur, saya agak kurang enak badan karena sempat terbangun sakit di waktu-waktu menjelang subuh; sebenarnya hanya sekadar masuk angin saja, namun saya anggap itu adalah hal biasa, maka dari itu saya tetap nekat untuk menghadiri kelas.


duduk di kelas Kapita Selekta, hawa dingin yang berasal dari AC kelas saat itu begitu dingin menusuk kalbu.
ingin rasanya kelas di hari itu cepat selesai.


beberapa jam kemudian, akhirnya usai.



begitu keluar kelas, entah mengapa badan saya merasa lebih 'enteng'. rasa dingin yang tadi begitu menusuk itu perlahan menghilang.


pergi ke Kansas, makan, ngomongin tema skripsi, sambat, ghibah, selesai.




selanjutnya saya bersama dengan sebagian dari 'ceciway' berjalan dengan santai menuju ruang HMJ.
memasuki ruang HMJ, tampak mereka para 'cowo-cowo sejarah' sudah menunggu.
dalam ruangan yang sebegitu luasnya, seperti biasa, kami berghibah ghibah ria dan diselingi dengan rapat PI HF. bukan rapat PI HF yang diselingi dengan ghibah.


anak sejarah memang hobi ghibah, baik lelaki maupun perempuan sama saja.
bagi mereka, ghibah sudah bagai separuh hidup mereka.


beberapa saat kemudian, suasana agak hening.



"nih, gua pengen belajar dari sekarang biar bisa baca paleografi Belanda di ANRI"
—Arief



kemudian menatap sebuah buku yang tadi diambilnya dari sebuah kardus berisi penuh buku-buku yang tak lagi terpakai di ruang HMJ.


selanjutnya, mulailah dibaca buku itu.


"......de drie musketiers......"


"eh Dhes, fünf atau vijf sih yang bener? gua lupa..."
"vijf anjir"
"oiya fünf Jerman ya baru inget"
"iyaa Rip, fünf tuh Jerman, kalo Belanda vijf"
"kalo neun sama negen, neun Jerman kan? negen Belanda?"
"iyaaa neun tuh Jerman. kalo Belanda negen"
"gua suka ketuker-tuker dah antara Jerman sama Belanda"
"SAMA!"

kemudian kami saling tertawa.


meanwhile, dalam hatiku :
*HAHAHAHA orang-orang yang ga dapet Jerman di SMA nya can't relate*



"anjay Dhesta, hollandsche-spreken"
—Pippo


"berisik lu Pip ah"


"lu lu semua harus tau, di kelas Belanda Sumber yang sama Mas Bondan kemaren tuh ada 2 nederlands-spreken! pertama Dhesta, kedua Onggo! demi Allah udah beneran kea orang Belanda anjir disitu mereka"
—Sukron


*kelas Belanda Sumber yang sama Mas Agus can't relate*



...
dalam hati,
"aduh, kenapa topik bahasannya tiba-tiba bisa jadi merujuk ke hal-hal yang begitu sih, malez deh w,,,,"
...



"Onggo kemarin dapet A- Belanda Sumbernya anjir, gila gak tuh"


"anjeeeeeeer"
"wah gila gila"




"Dhes, lu berapa kemarin Belanda Sumber?"
"hehehehe"
"berapa maliiiih. hehe hehe ae lu"
"A-"


saya diam, berusaha untuk menunduk dan tersenyum malu-malu.


seraya berujar dalam hati,
"plis jangan dihujat plis plis plissss..."



kemudian.....



"ANAK BUPATIIIII!"
—Naufal


"tuh kan anying orang-orang B+ semua, mereka berdua doang yang dapet A-. udah ini mah fix nederlands-spreken gaada obatnye"
—Sukron

"tae la pantesan ae lu disuruh Mas Bondan ganti periodisasi jadi ke era Belanda. ternyata...."


"iya anjir, yang lain disuruhnya mundurin ga jauh-jauh amat, palingan cuma ke Orde Lama atau engga ya Orde Baru doang. lu doang Dhes emang dah yang disuruh mundurin sampe ke era Belanda"


"akal akalan ege Dhes itu"


"udah gapapa Dhes bahas kolonial, temenin gua ntar di ANRI"
—Pippo




sungguh, sebenarnya saya merasakan dua hal ketika menanggapi hal tersebut.
di satu sisi, saya sempat berpikir bahwa "oh ternyata begini pandangan orang mengenai saya".

namun di sisi lain sebenarnya saya agak risih, karena saya bukanlah tipikal orang yang suka dipuji, bahkan untuk bisa menelan mentah-mentah setiap pujian yang pernah terlontar dari mulut orang lain.




di sisi yang lain lagi, justru tiba-tiba terbersit pikiran soal tema skripsi yang belum jelas, kembali.



".....mending kolonial atau kontemporer ya....."





kemudian, saya teringat pada suatu hal.


"oh iya, gue belum kontak Mas Agus! apa kabar Metode Sejarah gue nanti, mau bilang apa gue ke Mas Bondan...."




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Geliat Industri Pertambangan Minyak Era Hindia Belanda: Dari Royal Dutch-Shell Hingga Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM)

Kantor Pusat Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM) di Batavia, sekitar tahun 1935. Sumber: https://www.nationaalarchief.nl    Sejak awal abad ke-20, sektor pertambangan telah menggeser prioritas dari  kuantitas ekspor sektor perkebunan di berbagai belahan dunia, termasuk Hindia Belanda.  Salah satu komoditas pada sektor pertambangan yang berperan penting dalam  menggerakkan industri adalah minyak bumi. Minyak bumi merupakan komoditas yang  dicari oleh negara-negara besar untuk dimanfaatkan dalam berbagai keperluan, seperti  untuk bahan bakar, keperluan perang, dan sebagainya.  Sejatinya, minyak bumi telah  ditemukan oleh masyarakat setempat dan dimanfaatkan untuk keperluan sederhana.  Walaupun minyak bumi sudah dimanfaatkan sejak lama, saat itu minyak bumi masih  dikategorikan sebagai barang bebas, belum menjadi barang yang bernilai  ekonomi. Dengan adanya perkembangan ilmu kimia  yang semakin maju, lambat laun minyak b...

Front Pembela Islam (FPI) dan Kiprahnya dalam Berbangsa dan Bernegara di Indonesia

Gambar 1. Ilustrasi FPI. Sumber: www.liputan6.com       Front Pembela Islam (FPI) atau yang juga dikenal sebagai Islamic Defenders Front merupakan sebuah organisasi berlandaskan Islam yang dicetuskan di Petamburan, Jakarta Pusat, dan resmi berdiri sejak organisasi tersebut dideklarasikan secara terbuka pada 17 Agustus 1998 (25 Robi’uts Tsani 1419 H) di Pondok Pesantren Al-Umm, Ciputat, Tangerang Selatan. Organisasi ini didirikan oleh sejumlah ulama, haba’ib, serta sejumlah aktivis muslim dengan dipelopori oleh seorang tokoh keturunan Hadrami yang bernama Muhammad Rizieq Shihab, yang kini banyak dikenal oleh masyarakat luas sebagai Habib Rizieq Shihab. Makna Nama "Front Pembela Islam" pada FPI      Pemilihan nama “Front Pembela Islam” ini memiliki makna tersendiri. Kata “front” yang berarti “depan”, menunjukkan bahwa organisasi ini selalu berusaha untuk berada di garis terdepan dan memiliki sikap tegas dalam setiap langkah perjuangan yang berasaskan aj...

SNMPTN, Ilmu Sejarah UI, dan Awal Perjuangan Sesungguhnya

Sebelumnya, saya mohon maaf apabila tulisan ini saya buat jauh setelah pengumuman SNMPTN berlangsung, bahkan disaat saya menulis ini, saya sudah mulai mengerjakan beberapa proyek akhir dalam rangka mempersiapkan UAS di kampus saya yang sekarang ini saya huni dalam rangka menuntut salah satu disiplin ilmu yang saya impi-impikan sejak dulu. Jadi, saya putuskan untuk merangkum tulisan-tulisan yang sebelumnya telah saya buat di memo handphone saya yang telah saya buat sejak Januari 2017 silam, dan bahasanya juga agak berbeda, karena disini saya akan menggunakan bahasa saya sehari-hari. Selamat membaca! -------------------------------------------------------------------------------------- Ga terasa, masa-masa SMA udah hampir habis gue lewatin. Banyak banget pelajaran hidup serta kenangan-kenangan yang gue dapet di masa itu. Yang manis ada, yang pahit pun juga ada. Mulai dari kisah pertemanan yang "solid tapi banyak wacana", kisah kebandelan Dhesta dan teman-temanny...